Rohil – Dunia pendidikan di Kecamatan Rimba Melintang, Kabupaten Rokan Hilir, kembali diguncang aksi tidak terpuji sekelompok orang yang mengatasnamakan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Sikap memaksa, dan menuduh sembarangan yang mereka lakukan menuai kecaman keras dari tenaga pendidik hingga masyarakat setempat.
Pihak sekolah mengaku sangat resah, atas kedatangan oknum-oknum LSM yang bertindak tanpa dasar bukti yang jelas. Seperti yang terjadi di SMP Negeri 5 Rimba Melintang, tepatnya pada Kamis (4/6/2026). Tiga orang yang mengaku sebagai unsur LSM, salah satunya wanita berinisial Ai, mendatangi sekolah dengan dalih ingin melakukan pengawasan terkait dugaan pungutan liar (pungli) dalam kegiatan perpisahan siswa.
Namun, kedatangan mereka sama sekali tidak mencerminkan lembaga kontrol sosial yang seharusnya santun, objektif, dan mengutamakan bukti. Justru sebaliknya, sikap dan cara mereka bertindak dinilai persis seperti preman yang ingin berkuasa semena-mena. Seorang guru yang sedang bertugas piket berinisial S, menceritakan pengalaman buruk dan menegangkan saat harus menghadapi kedatangan rombongan tersebut.
Saat itu, S berusaha menjelaskan dengan bahasa yang baik dan sopan bahwa Kepala Sekolah sedang tidak berada di tempat karena harus menyelesaikan tugas dinas luar. Namun, penjelasan itu sama sekali tidak didengarkan dan malah dijawab dengan sikap memaksa hingga berujung tindakan fisik ringan.
“Gayanya seperti preman! Bahkan sempat terjadi dorong-dorongan saat mereka memaksa masuk ke ruang majelis guru. Sudah saya jelaskan Ibu Kepala Sekolah sedang ada urusan luar, tapi mereka tetap ngotot dan tidak mau dengar alasan apa pun,” ungkap S dengan nada kesal dan masih terguncang mengingat kejadian tersebut.
Pihak sekolah pun telah berusaha memberikan penjelasan secara gamblang dan terbuka bahwa kegiatan perpisahan siswa tahun ini digelar secara sederhana, penuh kekeluargaan, dan sama sekali tidak memungut biaya sepeser pun dari wali murid maupun siswa. Penjelasan tersebut disampaikan untuk meluruskan informasi agar tidak terjadi kesalahpahaman, namun kembali diabaikan mentah-mentah oleh para oknum. Mereka tetap bersikeras menuduh adanya praktik pungli, seolah sudah memiliki kesimpulan sendiri bahkan sebelum turun mencari fakta di lapangan.
Ditegaskan oleh S, perilaku tersebut sangat mencoreng nama baik lembaga swadaya masyarakat yang sejatinya hadir menjadi mitra masyarakat dan pengawas yang beretika.“Apakah seperti ini cara kerja oknum yang mengaku LSM? Tidak ada etika, tidak mau tahu kebenaran. Mereka datang seolah sekolah sudah pasti bersalah, padahal tak ada bukti apa pun. Ini sangat merugikan dan menekan kami yang bekerja keras mendidik anak bangsa,” tegasnya dengan nada kecewa.
Kemudian kecaman tajam dari masyarakat sekitar. Salah satu warga yang berdomisili di Jalan Rimba Utama bernama Rambe, sangat menyayangkan kelakuan oknum tersebut yang dinilai telah mencemari nama baik lembaga sosial dan meresahkan ketenangan umum.
“Saya sangat menyesalkan ulah mereka yang suka menakut-nakuti pihak sekolah dan mencari-cari kesalahan. Jangan membuat alasan tanpa bukti yang jelas hanya untuk kepentingan sendiri. Tindakan seperti ini sangat meresahkan dan seolah-olah lembaga pendidikan selalu dianggap bersalah sebelum ada pembuktian,” Pungkasnya Rambe.
